Rahudman Silaturrahmi dengan Forum Cendikiawan Muslim Muda, Sebut Ulama Guru Para Umara

0
155

9

Medan – Ulama adalah guru para umara (pengusaha). Sebagai guru, ulama tugasnya memberikan nasehat serta tuntunan dan umara harus mendengarkan dan mematuhinya.

demikian disampaikan tokoh masyarakat Sumatera Utara H Rahudman Harahap MM dalam silaturrahim sekaligus buka puasa bersama dengan para ulama dan cendikiawan yang diadakan Forum Cendikiawan Muslim Muda (FCMM) Sumatera Utara di aula Sufi’s Coffe, Kompleks MMTC Blok A No.23, Medan Estate, Senin (4/4/2022).

“Ini penting, kita harus menempatkan para ulama sebagai guru yang harus dipatuhi dan dihormati, itu karena para ulama memiliki pengetahuan yang mendalam tentang aturan kehidupan yang sangat berguna dalam menata pemerintahan,” ujar mantan Wali Kota Medan itu, Senin (4/4/2022).

Rahudman mengatakan, ulama adalah representasi fungsi kenabian yang bertanggung jawab untuk menuntun masyarakat, termasuk pemerintah, agar tetap di atas jalan yang benar.

“Jadi keliru jika kita mendikotomikan peran ulama dan umara. Keduanya harus bersinergi dan menyatu ibarat guru dan murid. Ulama memberikan tuntunan dan umara menjalankannya,” sebut Rahudman.

Kenapa sinergitas antara ulama dan umara harus dibangun, menurut Rahudman karena dalam membangun daerah seperti Medan atau Sumatera Utara, tidak bisa dilakukan sendirian melainkan harus bersinergi. “Tanpa bersinergi, pembangunan tak akan berhasil. Tanpa persatuan, kita tidak akan hebat,” ujarnya.

 

Karenanya, saat ia menjabat sebagai umara, ia merangkul para ulama, para ustad dan cendikiawan serta selalu meminta pandangan dan nasehat-nasehatnya. “Saya tidak tenang bekerja kalau saya tidak dekat dengan ulama,” akunya.

Saat tak lagi menjabat, Rahudman mengatakan ia juga terus berupaya selalu dekat dengan ulama. Setiap minggu secara rutin ia dan keluarga mengelar pengajian di pendopo kediamanya dengan mengundang ustad-ustad memberikan pencerahan.

 

Juga kenapa ia harus berkunjung ke Simalungun menemui Tuan Guru Batak belum lama ini, yang dipertanyakan orang. Rahudman mengatakan hatinya selalu tergerak untuk mendatangi ulama untuk meminta doa dan nasehatnya karena ulama adalah pewaris para nabi.

 

Ketua Forum Cendikiawan Muslim Muda Sumatera Utara Dr Iwan Nasution, dalam silaturrahmi itu mengatakan, ada simbiosis mutualisme antara umara dengan ulama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

 

Secara bahasa, sebut Iwan, umara dan ulama sama-sama memiliki arti pemimpin, umara adalah pemimpin pemerintahan dan ulama pemimpin agama, dan antara keduanya saling membutuhkan satu sama lain.

 

Umara membutuhkan ulama untuk meligitimasi program pembangunan dan sekaligus memotifasi umat untuk mendukung program tersebut. Ulama juga membutuhkan um­ara untuk memberi dukungan legal-formal berlaku­nya hukum-hukum agama di dalam masyarakat.

 

Dr M Husni Ritonga MM, Sekretaris Lembaga Dakwah NU Sumatera Utara, menyebut bahwa Rasulullah Muhammad SAW merupakan contoh bagaimana umara dan ulama menyatu. Sebab saat di Madinah, Rasul merupakan pemimpin pemerintahan Islam sekaligus pemimpin agama.

 

Karenanya, kata Husni, dalam Surah An-Nisa: 59, Allah memerintahkan orang-orang beriman agar taat pada Allah, pada Rasul-Nya, dan pada ulil amri (pemimpin). Dan di ayat ini, Allah menyamakan pemimpin pemerintahan dengan pemimpin agama, sehingga itu mensyaratkan didalam diri pemimpin harus ada ruh ulamanya.

 

“Yang bisa menegakkan amar makruf nahi mungkar itu adalah umara yang memiliki ruh ulama. Karenanya untuk bisa merubah tatanan masyarakat di Kota Medan menuju masyarakat yang adil dan makmur, kita harus memiliki seorang pemimpin yang adil yang mempunyai ruh ulama,” tegas Husni.

 

Husni mengatakan sosok Rahudman Harahap bukanlah sosok asing bagi masyarakat Sumatera Utara. Ia punya sejarah yang panjang di dunia birokrasi hingga terakhir menjabat sebagai Wali Kota Medan yang dikenal memiliki ketegasan dan dekat dengan para ulama.

 

Sementara, Ustadz Mansyur Daud Lubis MM selaku ketua himpunan para da’i Kota Medan, Misbahul Muslimin, yang juga hadir dan berbicara dalam pertemuan silaturrahim itu mengatakan bahwa sinergitas antara umara dengan ulama sangatlah penting dan mutlak harus dilakukan agar sebuah pemerintahan berjalan dengan baik.

 

Ustadz Mansyur mengaku cukup terkesan dengan Rahudman Harahap saat memimpin Kota Medan yang sangat menghargai dan tanggap atas apa yang disampaikan masyarakat dan pemuka agama.

 

“Saat itu kawasan Simpang Limun sering dilanda banjir akibat paret di jalan Kemiri dan jalan Seksama tersumbat. Sudah disampaikan ke kepling dan lurah tapi tak ada tindakan sehingga sejumlah masyarakat dan pemuka agama (badan kenaziran masjid) mengadu langsung ke Wali Kota,” ujarnya.

 

Rahudman Harahap sebagai Wali Kota saat itu, kenang Ustadz Mansyur, langsung merespon dan memerintahkan dinas terkait melakukan pengorekan dan pembersihan.

 

“Ingat saya Pak Rahudman langsung turun memimpin di lapangan. Camat, Lurah dan kepling-kepling semuanya hadir. Hanya dalam satu malam parit-parit yang tersumbat dibersihkan dan persoalan tuntas diatasi. Pak Rahudman ini sangat tegas namun mengayomi dan mau mendengar ulama dan rakyatnya, sehingga sangat layak untuk didukung kembali sebagai pemimpin,” ucap ustadz Mansyur.

 

Kegiatan silaturrahmi dan buka puasa bersama yang diadakan FCMM Sumut dengan Rahudman Harahap ini, dihadiri sekitar 60 orang. Hadir di pertemuan ini sejumlah ulama, ustadz dan cendikiawan muslim muda, perwakilan NU, Al-Wasliyah dan Muhammadiyah, perwakilan organisasi kemahasiswaan dari USU, UNIMED, UINSU dan UMSU, serta sejumlah undangan lainnya. (**)