Deli Serdang Ekspor Salak Asal STM HULU Ke Thailand.

0
674

sumutekspos.com l Deli Serdang

Kementerian pertanian lewat Badan Karantina Pertanian (BARANTAN) kembali mengapresiasi petani dan eksportir di wilayah deli serdang.

Petani sekaligus Eksportir salak madu asal daerah Tiga Juhar kecamatan STM Hulu kabupaten Deli Serdang mampu membawa buah asli indonesia tembus pasar ekspor untuk pertama kalinya ke luar negeri dan pada pengiriman perdana ini ke Thailand.

“Kita patut apresiasi prestasi yang demikian, kita bantu dari sisi informasi dan pemenuhan phytosanitary nya”.ungkap Ali Jamil, Kepala Barantan saat melepas perdana Ekspor Salak madu dari Deli Serdang ke Thailand, Selasa (27/8) di kantor Karantina Pertanian Medan Kualanamu Kecamatan Beringin.

Setelah berbagai daerah mampu melakukan ekspor salak ke manca negara seperti petani salak asal Yogyakarta, Denpasar dan Semarang, sekarang giliran petani di Kabupaten Deli Serdang yang mampu membawa buah yang bernama latin_Salacca edulis_ke pasar luar negeri.

Dedi Juliardi, Direktur CV. Sinar Ponti sebagai petani sekaligus eksportir mengaku senang atas dukungan dari kementan, harga pasar ekpor bisa jauh lebih baik dan lebih tinggi di bandikan harga lokal. Dari informasi harga ekspor bisa mencapai Rp.68.000,- per kg sedangkan pasar lokal sekitar Rp. 20.000,- per kg.

Menurut Jamil, pihaknya¬† sesuai dengan tugasnya memastikan produk pertanian ini memiliki daya saing dan diterima sesuai persyaratan ekspornya.Target pemeriksa karantina pada buah salak salah satunya adalah terhadap lalat buah (Bactrocera spp) jenis hama lalat buah yang menjadi perhatian utama untik negara Thailand, sebagai negara tujuan ekspor perdana kali ini. Pemeriksaan dilakukan oleh petugas dilaboraturium yang telah terakreditasi secara internasional. “selaku otoritas karantina, Barantan menjadi penjaminnya”, jelanya.

Selain itu layanan pemeriksaan ekspor juga dilakukan dengan sistem jemput bola yaitu pemeriksaan ditempat pemilik, rumah kemas tujuanya agar meningkatkan efektifitas dan mempercepat arus barang saat dibandara atau pelabuhan. Menurutnya, jika diperlukan petugas karantina juga dapat memberi pelatihan bagi petani maupun rumah kemas agar produknya terhindar dari organisme penganggu tumbuhan karantina (OPTK) sesuai yang dipersyaratkan negara tujuan, sehingga mengurangi reject saat penyortiran.

“Untuk budidaya dan penerapan¬† good farming practice¬† kita juga bekerja sama dengan instansi didaerah supaya kita bisa dorong bersama, kita kibarkan merah putih di berbagai negara”, (humas)